Belas kasihan tidak murahan

“Kita gak mungkin beri ia naik kelas kalau tidak ada dasar, karena bisa jadi kebiasaan yang tidak sehat”, itu kata-kata yang terus terngiang di kepalaku

Memikirkan kemungkinan kasih konsekuensi gagal alias gak naik kelas bagi siswa itu bikin susah hati. Apalagi setelah diteliti, ia kemungkinan gak naik kelas bukan semata-mata malas belajar, tetapi ada pengaruh keluarga dan lingkungan yang membuat mereka menjadi tidak punya semangat belajar.

Problemnya yang terlihat nyata adalah sikap memberontak mereka, kemalasan mereka, ketidak mampuan untuk mengikuti petunjuk guru, sehingga bikin orang malas juga untuk membantu.  Berulang kali sikap ngeselin ia munculkan membuat orang enggan berbelas kasih dan lebih memilih untuk memberi konsekuensi logis.

Di sisi lain, sebagai konselor, ketika tahu ada apa dibalik sikap ngeselinnya, aku cenderung berbelas kasihan dan meminta adanya kesempatan untuk ia berubah. Meski sadar bahwa kesempatan bisa jadi boomerang juga ketika peluang tersebut disalah gunakan si siswa yang terbiasa manipulative.

So bagaimana menerapkan belas kasihan tapi tidak murahan? Memberi kesempatan namun tidak gratis. Tetap harus ada harga yang harus dibayar, meski itu tidak sebanding dengan apa yang ia terima, karena ia sebenarnya belum mampu memenuhi target yang seharusnya dalam waktu sesingkat sekarang.

Hari ini aku belajar dari seorang kawan yang di satu sisi bersikap tegas atas nilai akademis anak yang jauh dari harapan tetapi melihat masa depan dan kemungkinan besar anak ini masih bisa diajar. Ia membuka kesempatan berbelas kasih dengan  ada usaha riel dari si anak menunjukkan perubahan.

Semoga kita semua bisa menghargai setiap belas kasihan yang kita dapat dalam hidup, karena sesungguhnya belas kasihan itu tidak boleh murahan

About Puzzle of Life

Yayasan Puzzle of Life memiliki visi untuk mengembangkan potensi anak muda

View all posts by Puzzle of Life →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *