Aku lahir di Indonesia bukan kebetulan

Dari sekian banyak lokasi di dunia, kenapa aku lahir di Indonesia? Bukankah Indonesia masih banyak tertinggal di banding negara-negara Asia lainnya. Bukankah issue SARA di Indonesia makin lama makin “mengkhawatirkan?”

 Kalau pola pikir kita adalah untung dan rugi, maka mungkin banyak di antara kita yang menyesali kehadiran diri di bumi pertiwi ini. Namun kalau kita berpikir berangkat dari tujuan Ilahi Sang Pencipta, maka Dia yang maha kuasa tidak pernah salah dalam rencana-Nya dan apa yang Dia taruhkan, selalu yang terbaik.

Aku bersyukur diddik dalam sebuah sekolah SD yang multi warna. Ada yang hitam, putih dan kuning kulitnya, Ada yang ekonomi berlebih dan ekonomi pas-pas an. Ada berbagai macam guru dengan berbagai latar belakang, mengajar aku mencintai keragaman di Indonesia ini. Belajar berbagai budaya dan menghargai yang tidak sama, meski tetap memegang prinsip hidup yang utama. Sejujurnya sebagai suku Chinese, aku belajar keramah tamahan dan kepedulian pada sesama lewat kawan yang berbeda suku. Perjalanan bersama sepulang sekolah termasuk ketika ada yang terluka (salah satu dari kami mengalami kehilangan ibu dan kondisi ayah yang akan menikah lagi) menerima kekuatan dan hiburan dari kawan-kawan ini. Sederhana banget tapi berkesan. Rasa hangat itu juga yang menopangku saat ada masalah dalam keluargaku.

Aku menerima berbagai informasi soal budaya bangsa dari berbagai literature kisah rakyat yang sangat berwarna dan mengasyikkan, membuat ku kaya dalam kehidupan sosial berbangsa dan bernegara. Belum lagi membaca kisah berbagai tokoh sejarah, seperti Soekarno, Bung Hatta dan terakhir Sutan Syahrir plus Tan Malaka, membuka mata bahwa Indonesia ada karena adanya orang-orang yang rela berkorban dan berjuang demi kesatuan berbagai perbedaan tersebut. Dan mereka berhasil. Soekarno,  lewat kepemimpinan dan kemampuan orasinya, Hatta, lewat ekonomi kerakyatannya, Syahrir, lewat kemampuan berdelegasii dengan bangsa asing dan Tan Malaka, lewat tulisan dan pendidikan yang diupayakannya menyatukan Indonesia di 17 Agustus 1945.

Bukankah Indonesia yang sebegitu heterogen adalah negara yang super kaya dan super menantang? Bukankah harusnya manusia lahir dan hadir di dunia untuk berinteraksi dan jadi berkat bagi sesama. Lebih jauh, bukankah ada mother Teresa, Nelson Mandela, Lady Diana dan juga tokoh remaja Malala Yousafzai yang berjuang demi kasih, keadilan dan kesamaan hak membuat kita semua mengakui bahwa kehadiran mereka membawa kebaikan di dunia

Indonesia adalah miniature kecil dunia, di mana aku belajar untuk mencintai, peduli dan terus berjuang. Bukan semata-mata supaya Indonesia terkenal, namun terlebih kiranya tujuan Sang Pencipta bisa ku kabulkan lewat ketaatku mencintai dan membangun yang Ia cintai juga yaitu menjadikan manusia yang sejati, kembali kepada gambar dan rupaNya di dunia ini. Kiranya Dia menolongku setia hingga akhir hayat.

Jai,  apa perenunganmu teman soal keberadaanmu lahir di Indonesia menjelang perayaan akbar Indonesia merdeka 73 tahun?

About Puzzle of Life

Yayasan Puzzle of Life memiliki visi untuk mengembangkan potensi anak muda

View all posts by Puzzle of Life →