Fenomena “Must to Buy” Smartphone Terbaru

Beberapa tahun terakhir ini Indonesia “kebanjiran” teknologi informasi dan komunikasi dalam bentuk yang praktis, salah satu nya Smartphone. Pionir dari Fenomena ini dimulai dari masuknya produk dari USA yang terkenal dengan harganya yang cukup (tidak) terjangkau bagi sebagian orang. Lalu disusul oleh produk dari Korea yang menawarkan harga yang lebih murah dengan kualitas yang cukup mumpuni dan dapat menandingi produk yang lebih dulu ada.

Dan ketika produk dari Negeri Tirai Bambu mulai masuk ke Indonesia, fenomena ini semakin menguat karena harga dari produk-produk tersebut jauh lebih murah hingga sangat terjangkau, dengan kualitas yang setara bahkan melebihi dari produk-produk yang sudah ada sebelumnya. Hal ini membuat persaingan antara produsen smartphone pun terbagi menjadi 6, yaitu : Low-End, Low-Mid-End, Mid-End, Mid-High-End, High-End, Flagship. (Nah, penjelasannya di bagian akhir ya).

Ada pasar yang menjadi akar dari fenomena “Must to Buy” tadi yaitu : MID-END, MID-HIGH-END, dan FLAGSHIP. Jika dulu orang-orang membeli HandPhone atau Smartphone karena memang dibutuhkan, sekarang ini orang hanya mengikuti trend yang ada, sehingga setiap produk baru baik di kalangan ini keluar, pasti akan diserbu apalagi di kalangan MID-END dan MID-HIGH-END karena harga yang cukup terjangkau seperti pada penjelasan diatas. Lain ceritanya, dengan kalangan FLAGSHIP yang harganya belasan juta, yang diburu karena mengejar prestige.

Apakah hal ini sehat?  Tentu tidak, karena hal ini menjadi sebuah gaya hidup yang boros / hedon. Selain itu, tidak sehat untuk dompet juga, apalagi bagi mereka yang agak cekak dalam urusan keuangan. Karena, kita sendiri pastinya ada kebutuhan yang jauh lebih penting dari sekedar ganti Smartphone yang baru rilis. Lagipula, perkembangan Smartphone itu mempunyai rentang waktu cukup singkat, bisa jadi ketika kita baru beli, 2-3 bulan kemudian di rilis lagi varian yang lebih baik dengan harga yang beda tipis dengan yang baru kita beli.

Up-to-date dengan teknologi itu memang baik dan perlu untuk mengimbangi perkembangan jaman. Tapi bukan berarti kita boleh menjadi boros dan membeli Smartphone sekedar untuk terlihat up-to-date. Belajarlah menghadapi perkembangan teknologi dengan bijak dalam mengelola keuangan dan dapat memilah apa yang harus kita utamakan. Penuhi kebutuhan bukan keinginan karena apa yang kita inginkan belum tentu sama dengan apa yang kita butuhkan.

Berikut penjelasan secara singkat dari istillah-istilah tersebut.

  1. Low-End : Smartphone yang mempunyai fitur dasar seperti internet, kamera depan ataupun belakang. Serta banyak aplikasi populer yang bisa diinstal dengan mudah tanpa membebani smartphone terlalu berat. Whatsapp, BBM, Line, Opera Mini bisa dijalankan dengan cukup lancar. Baterai kapasitas standar dan kamera juga standar (yang penting bisa selfie, hehehe). Harga baru berkisar dibawah 1 jt. Mayoritas belum mendukung jaringan 4G LTE
  2. Low-Mid-End : Ini ibarat segmen peralihan antara Low end ke Mid End. Terlalu canggih untuk harga Low-End, tapi belum pantas ke Mid-End karena belum mumpuni. Umumnya Ram 1 – 2 GB. Prosesor sama dengan Smartphone Low-End namun dengan frekuensi lebih tinggi sedikit. Kamera belakang resolusi sampai 8MP. Harga baru kisaran 1 jutaan. Sebagian kecil mendukung 4G LTE
  3. MID-END : Ini dia segmen yang menimbulkan fenomena tersebut di Indonesia, segmen yang berisi ponsel yang “cukup pantas” dilihat, kamera sudah cukup bagus (setara camera digital murah). Umumnya, Layar sebagian besar sudah menggunakan bahan IPS, dan resolusi HD. RAM 2GB menjadi “harga mati”. Prosesor menengah (Snapdragon 4XX dan 6XX, Mediatek seri P). Kamera belakang minimal resolusi 8 / 12 MP, dan kamera depan 5 MP. Harga baru kisaran 1,5 sampai 2,5 jt (Range harganya membuat fenomena ini semakin subur). Harus mendukung 4G LTE. Ada fitur Fingerprint dan memiliki Body bagus.
  4. MID-HIGH-END : Segmen yang cukup bergengsi, dimana para Flagship wannabe diluncurkan. Kualitas kelas atas, fitur-fitur canggih, gak malu-maluin kalau diajak jalan-jalan (hehehe), kamera setara camera digital bahkan bisa lebih bagus.
    Layar IPS+, AMOLED, Super LCD (pokoknya bukan TFT lah) dengan resolusi HD ke atas. rAM 2 – 4 GB. Prosesor kelas atas (Snapdragon 8XX, Mediatek Helio). Kamera belakang minimal 13 MP dengan sensor bagus serta fitur canggih, kamera selfie mendukung autofocus. Body mantap (kalau dipegang udah ketauan mahal, hehehe), biasanya full metal atau kaca. Punya fitur khas perusahaan, misal anti air, kamera kualitas atas, sidik jari, dan lain-lain. Harga baru kisaran 3-4 juta.
  5. High-End : Ponsel kelas atas. Sudah tidak diragukan lagi spesifikasinya. Harga berbanding lurus dengan kualitas. Layar Full HD. RAM 4-6 GB. Prosesor kelas dewa (hehehe). Kamera hampir setara DSLR. Body seksi abis (woow). Harga baru 5 juta ke atas.
  6. FLAGSHIP : Ini dia rajanya ponsel dari perusahaan. Bisa dibilang senjata utama di perang smartphone. Fitur kelas dewa semuanya, baik dari prosesor, kamera, layar. Prosesor biasanya membawa yang terbaru dari perusahaan pembuatnya (Snapdragon 845), kamera canggih (Dual kamera belakang untuk foto bokeh atau makro), layar Full HD atau 4K. Body tahan air dan debu. Soal harga, taulah ya sudah pasti tidak terjangkau buat yang masih sering minum promag sebagai pemuas lapar (hehehe).

 

About Puzzle of Life

Yayasan Puzzle of Life memiliki visi untuk mengembangkan potensi anak muda

View all posts by Puzzle of Life →