Aku yang Dulu, bukanlah yang Sekarang

 

 

 

 

PUZZLE OFLIFE·RABU, 10 APRIL 2019

Sekitar tahun 1999-2000 adalah tahun-tahun yang sangat berat buat saya dan keluarga saya.
Sejak tahun 1998 papa saya kena PHK dan harus menghidupi 3 anak yg masih sekolah, keadaan ekonomi keluarga kami terpuruk.
Ortu saya yang sering bertengkar di rumah, pertengkarannya semakin parah karena masalah keuangan yang semakin memburuk.

Saya anak pertama, pada saat itu berusia sekitar 12-13 tahun, baru masuk SMP, dan saya melalui awal masa SMP dengan sangat pedih.
Sebagai etnis Tionghoa (walau saya merasa saya Indonesia 100% sejak lahir), saya selalu di-bully.
Nggak ada yang mau duduk bareng saya, karena takut bekas saya haram.
Nggak ada yang mau pinjemin pulpen, karena takut digigit-gigit dan ilernya bekas makan yang haram.

Belum lagi ada sekelompok anak yang sangat nakal di sekolah, hampir tiap hari palak (meminta uang secara paksa) saya.
Nggak jarang semua uang di kantong saya mereka kuras untuk beli rokok, narkoba, dan minuman keras.
Padahal, saat itu ekonomi keluarga kami sangat minim sampai saya harus ikut bantu mama jualan es mambo di sekolah adik saya yang masih SD.
Penghasilan kami tidak lebih dari Rp 20ribu setiap harinya.

Bayangkan, di rumah saya menghadapi masalah. Di sekolah juga menghadapi masalah. Saya nggak tahu mau cerita pada siapa.
Puncaknya adalah suatu ketika papa saya melakukan kekerasan fisik terhadap mama saya langsung di depan wajah saya.
Saya trauma berat sampai nggak bisa ngomong.

Sejak kecil sampai remaja saya selalu minder, gagap, nggak berani tatap mata orang lain, dan banyak trauma.
Setelah itu, saya tinggal dengan almarhum oma saya dan perlahan2 karena ada seorang kakak rohani yang rajin ajak persekutuan, saya mulai terbuka dan ditolong untuk mengalami pemulihan.

Waktu SMA, ada seorang kakak rohani yang membagikan cerita tentang Hati Bapa di acara retreat sekolah saya, dan di momen itu saya nangis sejadi-jadinya. Saya mulai ampuni papa-mama, mulai ampuni teman2 saya dulu, mulai ampuni keadaan saya, dan mulai ampuni diri saya sendiri. Saya minta Tuhan ambil alih kehidupan saya.

Di masa SMA saya mulai pulih. Saya jadi wakil ketua rohkris, berani ngomong di depan umum, belajar main gitar, bahkan saya jadi juara umum SMA waktu kelas 2 dan 3.
Waktu saya pulih, saya mulai berfungsi.

Saya sedih waktu mendengar teman-teman yang dulu di SMP suka palak saya, 3 orang sudah tiada dan usianya nggak ada yang sampai kelas 2 SMA.
Satu orang overdosis narkoba, satu orang meninggal tawuran, satunya lagi meninggal karena balap liar.

Gimana ortu saya? Mereka mulai pulih perlahan-lahan dan kondisi ekonominya membaik. Sekarang anaknya sarjana semua, walau dulu kami sempat berpikir kalo kami ngga bisa lanjut sekolah. Mereka masih suka bertengkar dalam beberapa hal, tapi nggak separah dulu. Saya dan adik-adik juga makin dewasa dan bijak memahami keadaan.

Sekarang saya terlibat aktif dalam pelayanan remaja dan berhasil menyelesaikan studi sampai S2. Adik saya semua menyelesaikan studi S1 dengan baik. Saat ini satunya kerja di Bank Mayapada, dan satu lagi kerja di Honda.

Teman-teman, kita ngga harus jadi buruk hanya karena diperlakukan buruk.
Kita ngga harus rusak karena di-bully atau mengalami masalah keluarga. Nggak harus berhenti bermimpi dan berjuang hanya karena masalah ekonomi.
Mengalami masa lalu yang buruk, atau mungkin kamu sedang mengalami hari-hari yang buruk? Sebenarnya kita sedang dipercaya untuk belajar dari kehidupan.
Apapun yang kita alami di masa lalu ngga harus merusak masa depan kita. Bangkitlah, berharaplah pada Tuhan, dan lakukanlah apa yang benar. Masa depan pasti dalam genggaman!

By: Yoseph K. Tandian, M.Th
Fasilitator Kamp Masa Depan

About Puzzle of Life

Yayasan Puzzle of Life memiliki visi untuk mengembangkan potensi anak muda

View all posts by Puzzle of Life →