Perasaan, pentingkah dalam hidup?

Pernah kah saat kita belajar, kita jadi lebih semangat belajar karena perasaan suka sama pelajarannya atau suka sama cara ngajar dari gurunya? Kalau kamu jawab pernah, maka kamu tahu banget betapa pentingnya perasaan saat kita meresponi suatu keadaan.

Sayangnya banyak orang menganggap perasaan itu nggak terlalu penting. Perasaan Itu cuma respon spontanitas reaksi orang yang tidak perlu terlalu diperhatikan. Padahal itu yang lebih tepat disebut emosi. Emosi adalah reaksi dari suatu situasi yang biasanya lebih bersifat umum. Misal marah ketika tidak mendapatkan keadilan, takut ketika berada dalam situasi menyeramkan. Perasaan lebih dalam dari emosi. Perasaan itu ekspresi dari pengalaman yang berbeda-beda bagi tiap orang. Terharu pengembangan lebih jauh dari senang dan sedih, muncul saat seseorang merasa diperhatikan. Geram saat seseorang merasa marah, geregetan dan sedih melihat perlakuan orang tua yang suka memukuli anak. Di sisi lain ada yang merasa itu biasa-biasa saja karena budaya memukul anak memang dianggap biasa. Jadi perasaan itu perpaduan yang lebih dalam dari emosi dan unik karena tidak bisa disama ratakan.

Di budaya asia, anak-anak terbiasa tidak diperkenankan mengekspresikan perasaan. Dianggap kurang sopan dan harus jaga etika saat ketemu orang. Apalagi anak cowo, dilarang sedih apalagi menangis. Terkesan lelaki harus selalu kuat. Kalau ada sakit hati, harus ditutupi karena tidak baik menunjukkan perasaan kepada orang lain.

Akibat pemampetan perasaan atau tidak diberinya ruang pada perasaan, lama-lama akan muncul rasa tertekan hingga depresi berkepanjangan hingga ingin bunuh diri. Apalagi dalam situasi pandemi belakangan ini, banyak orang yang tadinya terbiasa melarikan diri ke kegiatan saat tertekan sekarang gak bisa lari dan perasaannyapun tidak diakui dan diterima. Jadi muncul banyak masalah kesehatan mental.

Sebaliknya saat kita belajar mengenali dan mengekspresikan perasaan, kita akan merasakan kelegaan dan sekaligus memberi ruang pemulihan lebih cepat untuk melenting atau bangkit dari keterpurukan. Seorang remaja pernah datang curhat by online dan merasa sesak karena gak tahu mau ceritakan kejenuhan dia sama siapa karena merasa tidak layak juga untuk mengeluh. Saat diberi ruang untuk menumpahkan semua keluh kesahnya, diterima, dipahami, pelan-pelan keceriaan itu balik lagi. Waktu ditanya apa yang terjadi, dia bilang lega akhirnya kekesalan dia bisa dia buang dan itu memberi energi baru untuk ceria lagi. Unik bukan? Masalahnya belum tentu selesai, tetapi perasaannya udah bisa naik lagi.

Sederhananya, mulailah menerima bahwa perasaaan itu penting dan bagian hidup yang harus kamu terima dan boleh diungkapkan. Kalau bingung bagaimana, mulailah dengan bermain memakai lingkaran perasaam untuk mengingat berbagai perasaan yang selama ini kau abaikan. Mainlah dengan kakak atau adik, sambil menceritakan perasaan tersebut. Percayalah, ini salah satu terapi sederhana yang menghangatkan kasih persaudaraan dan membuat kita menjadi lebih kuat.

About Puzzle of Life

Yayasan Puzzle of Life memiliki visi untuk mengembangkan potensi anak muda

View all posts by Puzzle of Life →