Testimoni Teks

“Saya dulu sering konseling dan didoakan tapi ga terjadi banyak perubahan dalam diri saya. Pas kawan suruh konseling awalnya saya ragu, kak, saya takut kaya dulu lagi, tapi ternyata sama kakak beda. Saya merasa lebih enak setelah konseling sama kakak” (Im, klien konseling pribadi)

“Makasih untuk bantuan kakak, beberapa kali konseling aku. Anyway, I finally understand what it means to be honest to myself, like what you said to me months ago. Thank you ya, kak” (Nd, klien konseling pribadi)

“I was an insecure person, if God doesn’t love me, how can a mere mortal love me? I used to say to myself. No wonder, many people get tired of me. I keep pushing them around. I cut them off, just because I was afraid for the future pain. I say goodbye first, before they say bye to me. I am afraid of hope: I killed every hope and every bond.

It also reflected in my choices of life. I started to feel afraid of making decisions. Serving God and His Kingdom started looks so scary. If He allowed me to have pain in the past, I will for sure have it in the future. No wonder, I tried so hard to choose those familiar steps.

I am truly thankful that lately, God addressed this issue clearly. He allowed me to see this blindspots and gently teach me how to trust Him all over again. Layer by layer, He pulled out the false lie the devil said to me. And He helps me to replace it with His truth: that God loves me, not only the things that I do.

It won’t be an easy journey, I think, to re-learn this lessons: to get back my child-like faith, but I have confidence in this, that my God is a very patient teacher, and He will graciously teach me how to love and trust Him all over again. Thank you beloved ones, for walking with me in this season. I am deeply blessed for each of you.” (Mn, klien konseling pribadi)

“Dalam setiap konseling, saya sering bercerita panjang lebar, bahkan kadang keluar topik, namun konselor saya mendengarkannya dan menarik kesimpulan, bahkan melemparkan pertanyaan balik kepada saya. Dari kesimpulan dan pertanyaan tersebut, pikiran saya terbuka akan sesuatu yang tidak saya sadari. Tidak jarang juga bahwa hal tersebut sebenarnya sudah jelas hanya saja perlu bantuan orang lain untuk menyatakannya (point out). Saya tipe pemikir, kadang terlalu rumit berpikir sehingga hal sederhana menjadi sulit. Dengan bantuan beliau, benang kusut tersebut perlahan terurai. Walaupun proses tidak selalu instan, terkadang lambat, tetapi ada progres ke arah yang lebih baik.” (SF, klien konseling pribadi).¬†

“Di training konseling yang diselenggrakan oleh Puzzle of Life, saya belajar tuk pertama kalinya gimana caranya jadi konselor untuk remaja, bagaimana menghadapi masalah yang dihadapi remaja, pertanyaan apa aja yang harus disampaikan dalam konseling remaja, bagaimana supaya remaja terbuka ama konselor, dan banyak hal lain yang saya dapat dalam training ini.

Menurut saya, ini adalah jalan “jalan tikus setelah melewati jalanan macet biar ga kena macet lagi.” Maksudnya dalah: setelah lewat proses panjang untuk menggapai suatu panggilan, suatu hari kelak pasti akan ada jalan yang paling cepat supaya makin dekat dalam panggilanNya dalam hidup kita. Saya percaya pasti ada arahan “jalan tikus” dalam setiap hidup kalian! Tetaplah semangat tuk berjuang dan teruslah andalkan kekuatan Tuhan sampai nanti Tuhan kasih jalan cepat atau “jalan tikus” (Ch, peserta training konselor)

“Pengalaman saya selama konseling di Puzzle of Life sangat membantu kondisi saya, saya mendapat banyak penguatan agar tidak terpuruk pada kondisi saya, saya juga mendapat banyak insight dari Ci Virgie dan Ko Hanzh. Salah satu yang terpenting adalah Ci Virgie menganalisa kondisi dan pengalaman-pengalaman saya dengan mendalam dan cukup tajam, agar saya lebih memahami apa yang sebenarnya terjadi. Ci Virgie dan Ko Hanzh membantu saya dalam hidup saya, dengan anjuran-anjuran dari mereka untuk menjalani masa ke depannya. Terima kasih Puzzle of Life untuk semua itu…” (Er, klien konseling pribadi)

“Selesai dari training konseling bersama Puzzle of Life, saya melihat setidaknya ada 3 hal positif yakni: 1. Kepercayaan diri sebagai pembina remaja lebih kuat dibanding sebelum mengikuti training. 2. Penggunaan kalimat reflektif ketika di dalam proses mengkonseling orang lain sangat efektif dilakukan, minimal saat menjadi sekadar teman curhat bagi orang lain. 3. Mulai munculnya rasa empati terhadap orang lain dan mulai sedikit terampil mengoreksi diri pribadi, sekalipun masih banyak kesulitan. Terima kasih Puzzle..” (Angga Sunjaya, peserta training konselor)